Rabu, 02 November 2011

Cinta Pertama Bukan Berarti Pacar Pertama

Tepat jam 02.45 dini hari, aku terbangun dengan tersentak, karena suara tangisan anakku yang masih berumur sembilan bulan menghentikan mimpi indahku. Dengan gontainya aku bangun, dan menuangkan dalam botol susu 2 sendok susu beserta 120 ml air. Kuberikan pada anakku, dengan hitungan detik anakku memejamkan matanya kembali sambil mulutnya terus menyedot susu.

Aku pun berusaha memejamkan mataku kembali dan meraih mimpi indahku, tapi mengapa pagi itu mataku tak bisa terpenjam apalagi terlelap. Aku lalu membuka laptop dan berusaha manuliskan semua pikiran dan perasaanku. Kebiasaanku adalah suka tiba-tiba ingin menulis. Ya, aku teringat ingin membuat tulisan untuk seorang teman. Temanku yang sedang tertidur lelap dengan mimpi-mimpinya. Ditemani oleh beberapa bantal dan guling, dan mungkin saja dia sedang mendekap guling tersebut dengan hp masih ditangannya. Hmm…mudah-mudahan dia tidak lupa membaca doa sebelum tidur.

Aku mulai…

Kau lahir pada tanggal 1 Januari 1982. Lebih muda dariku. Aku mengenalmu sejak kau datang sebagai murid baru di sekolahku. Kau datang untuk bergabung dengan kami. Aku yakin, kau merasa aneh dengan lingkungan pedesaan yang penuh keterbatasan.  Kau begitu tampak keren dibandingkan teman lelaki yang lain. Aku cukup kagum padamu pada saat itu, karena kau berbeda dengan yang lainnya.

Keluguanku begitu tampak, setiap aku bertemu denganmu, jantungku berdegup kencang, bibirku kelu, dan tubuhku seakan gemetar.  Ketika itu aku tak bisa menutupi rasa kagumku. Kau adalah cinta pertamaku, tetapi bukan pacar pertamaku. Aku merasa jadi pujangga saat itu, kita seperti menjadi seorang penulis yang handal saat itu. Kita menulis tentang rasa sehingga bertambahlah koleksi surat di kotak surat rahasiaku. Begitu aneh, pada zaman itu. Pacaran tapi tak pernah duduk berdua apalagi bercanda. Syukurlah sehingga rasa itu tetap menjadi begitu indah dan membuat penasaran.

Mungkin hanya sekejap, tetapi serasa begitu membekas dihati. Kau pernah menjadi cerita hidupku.
Kau lelaki yang bersuara renyah, lelaki yang tegar dan mandiri. Pada saat itu, kebetulan kau jauh dari keluarga yang lengkap, tapi kau selalu terlihat ceria. Lelaki yang sangat tertutup, itu kesanku padamu, dan sampai saat ini aku tak tahu cerita tentang keluargamu. Kau mengajariku untuk lebih peduli dengan hidupku sendiri. Aku pernah melihatmu membeli sebuah sapu. Aku saja yang seorang perempuan tak pernah membeli hal semacam itu. Aku makin kagum padamu. 

Kau tumbuh menjadi pria dewasa. Dengan sayapmu kau mengembangkan hidupmu. Dengan kedua kakimu kau melangkahi semua imajinasimu. Kedua matamu menatap luas seluruh nadi kehidupan. Waktu itu aku, selalu ingin tahu keberadaanmu. Sampai suatu ketika kuliah, kita pernah dekat walau tak saling mengungkapkan rasa. Bagiku itu sudah cukup. 

Kau begitu manja sampai terkadang menutupi ketegaranmu. Aku pernah sekali mengantarmu pergi berziarah ke makam almarhum ayahmu. Kau selalu memegang tanganku. Sungguh saat menulis ini, aku meneteskan air mataku. Aku tak pernah lepas menatapmu pada saat itu. Ketika kulihat kau meneteskan air mata dengan doa-doa yang kau panjatkan untuk almarhum ayahmu. Ingin rasanya aku mendekapmu saat itu dan memberikan kata-kata penghiburan. Tapi rasanya badanku terasa kaku, bibirku terasa beku, dan tangan-tanganku terasa jauh untuk menggapaimu. Dalam batinku, kau lelaki yang begitu penyayang, melankolis, dan penuh dengan kedramatisan, tapi kau bukan lelaki yang romantis. Mungkin kau tahu itu. 

Kau adalah lelaki pertama yang mencium pipiku. Sungguh tak terkira saat kau mencium pipiku, ingin rasanya aku membalas mencium pipimu, tapi tetap aku begitu kaku dan salah tingkah. Mudah-mudahan kau tidak lupa, atau mungkin saja melupakan karena tak begitu berarti bagimu. Sekali lagi tulisanku ini bukan sebuah rayuan, tapi kejujuran. Sejak itu aku semakin tahu bahwa cinta itu logis, cinta itu petualangan, dan cinta itu mengalami. Yang paling penting adalah cinta itu memaafkan. Jika memaafkan berarti tidak untuk melupakan.
Dulu aku selalu mendambakan kau mengajakku untuk hidup bersama, entah mengapa Allah lebih tahu kita mempunyai jalan yang berbeda. Hidup itu sebuah pilihan. Kau selalu bilang padaku untuk selalu bersyukur. Kau selalu setia mendengar curhatanku, walau kau tak pernah berani menemuiku untuk menghapus segala kesedihanku. Kau selalu bilang padaku, kau memilih hidupmu dan kau harus menanggung risikonya.

Sekarang aku sudah menikah dengan suami yang aku cintai. Belajar darimu, aku mencoba untuk selalu bersyukur. Berbeda denganmu, kau belum menikah.  Aku tahu kau lelaki yang yang penuh dengan komitmen hidup. Kau lelaki yang sangat tegar, kokoh, dan penyayang. Bagimu, menikah itu adalah hal yang sangat sakral. Kau lelaki yang penuh dengan idealisme. Rencana hidupmu akan lebih baik dibanding kemarin. Mungkin kau sedang mengoleksi wanita-wanita kemudian kau seleksi dan akhirnya kau pilih. Hehehe..

Usiamu bertambah sekarang. Usia 29 adalah usia yang paling penting menurutku. Mengapa aku berpendapat seperti itu? Karena usia 29 adalah usia persinggahan untuk menuju ke angka 30. Psikologis hidup yang berbeda, foilosofi hidup yang berbeda. Semoga kamu akan melewatinya dengan penuh kesabaran. Tahun ini kisah hidupmu akan makin bertambah. Kisah sedih dan akan lebih banyak kisah bahagia yang akan mengisi hidupmu. Kau akan makin percaya diri dengan menegakan kepalamu dan melihat apa yang ada di hadapanmu. Raih dan gapai semua mimipi indahmu.

Aku sangat berharap dan menunggu kau memberikan undangan pernikahan kepadaku, walau mungkin akan sedikit teriris hatiku. Aku pasti akan bahagia melihatmu bersanding di pelaminan dengan wanita pilihanmu.