Bagiku cinta itu adalah memaafkan. Maka aku yakin dengan
cinta tak perlu saling melupakan. Aku tak pernah lupa denganmu. Wanita yang
begitu mempesona. Wanita yang membuat hari-hariku seperti di dunia bunga. Bunga mawar yang menandakan hidupku penuh dengan
tantangan. Bunga melati yang mengajariku untuk selalu tulus. Bunga anggrek yang
menyejukkan hatiku. Yang pasti hidupku semakin menawan
Bagiku memilikimu bukanlah hal yang utama. Memandangmu,
memperhatikanmu sudah sangat luar biasa bagiku. Tak pernah sedikit pun aku
lengah akan hal itu. Hingga suatu hari aku merasakan sebuah kehilangan.
Kehilangan yang sangat mendalam. Kau tak tampak dimataku.
Ya Allah, dimanakah hidupku? Aku seakan mati. Bernapas
dengan satu bilik jantung, mulutku seakan kering. Keringatku dingin. Bibirku
kelu. Mataku tak dapat memandang dengan jelas, remang. Kakiku tak bisa untuk
berlari mencarimu.
Aku tak berusaha bertanya kepada orang-orang di
sekelilingku. Aku ingin mencari dengan hatiku, seperti biasa. Aku bisa
menemukanmu dengan sangat cepat. Tapi kali ini, kau tak ada. Jejak kakimu saja
aku tak bisa mengendusnya. Aku berusaha untuk bersabar. Ku berusaha mencari
dirimu. Di setiap sudut ruangan. Sungguh, ingin rasanya aku menenggelamkan
diriku di laut agar tubuhku terisi dengan air dan aku mati terdampar di tempat
yang tak ada seorang pun mengenaliku.
Pagi ini aku diajak menemuinya di rumah sakit. Rasa itu
kembali muncul. Rasa di mana hidupku seperti di dunia bunga. Tak ada alasan aku
tuk menolak. Aku datangi rumah sakit dengan penuh percaya diri. Aku masuk ke
dalam ruangan. Kulihat ayah dan ibunya sedang mendampinginya. Senyum mereka
penuh dengan kebohongan. Senyum yang sengaja dibuat untuk menyembunyikan
kesedihan. Aku salut pada mereka. Mereka sangat kuat. Sekuat karang. Tetap kokoh
setia mendampingi putrid satu-satunya. Kuhampiri Nira. Matanya yang hampa tak
mau memandangku. Dia tetap melihat atap yang baginya tak pernah bergerak. Aku
tetap memberikan senyum walau tak dihiraukan. Matanya selalu mengeluarkan air
mata. Subhanallah, air mata itu tak henti-hentinya mengalir seakan membajiri
tubuhku.
Orang tuanya menceritakan kepadaku bahwa Nira terjatuh dari
tempat duduk spesialnya. Dia sempat muntah, tetapi sesudah itu dia tak merespon
apa-apa, hanya mengeluarkan air mata. Hatiku berteriak. Mengapa aku tak bisa apa-apa untuk
membantumu.
Nira, walaupun engkau cerebal
palsy , aku sangat mencintaimu. Cintaku tak beralasan. Walau engkau berbeda
dengan wanita lain, engkau tak bisa berjalan hingga remaja. Tapi hatimu tumbuh
seperti emas yang sangat bernilai hargamya. Perhatianmu, tawamu, belaianmu, kata-katamu
begitu membuatku seakan menjadi pangeran. Nira, kemana
senyummu?tawamu?belaianmu?kata-katamu? Tubuhmu diam. Aku yakin engkau sedang
bersedih, air matamu tak hentinya mengalir. Ingin rasanya aku goncangkan dia,
memaksanya untuk bicara.
Aku duduk disampingnya. Aku raih tangannya yang tanpa
respon. Lesu lunglai. Aku ciumi tangannya yang lembut. Aku paksa tangannya
untuk membelaiku. Aku bisikan doa-doa ditelinganya yang begitu wangi sewangi
parfummu. Nira hanya mengeluarkan air mata dan kulihat air matanya semakin
deras. Aku hapus air matanya dengan usapan-usapan tanganku. Kucium pipinya
dengan lembut hingga seorang suster harus menghentikannya karena keadaan Nira
semakin kritis. Air mataku jatuh tak terhingga. Aku menjadi cengeng. Orang tuanya menyarankanku untuk pulang
karena kondisi Nira semakin tak stabil sejak kedatanganku.
Esoknya aku mendapati sebuah
surat yang bertuliskan…..
Iim, aku memang berbeda dengan yang lain…Aku seorang cerebal palsy yang tak bisa berbuat apa-apa untuk
melayanimu. Engkau mengajariku banyak hal. Cinta, kesetiaan, ketulusan, kasih
sayang. Aku sangat kagum padamu. Engkau tak malu selalu mendampingiku. Kau
tetap setia menemanikun. Semoga engkau tetap percaya dengan cinta itu memaafkan.
Aku mencintaimu…Amat sangat mencintaimu…seperti puisi yang sering kita baca
ketika kita menunggu hujan reda…
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak pernah terucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya tiada
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak pernah
terucapkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada…
Surat yang kubaca menjadi basah
dengan air mataku…