Minggu, 30 Oktober 2011

Bagiku Cinta Itu Memaafkan

Bagiku cinta itu adalah memaafkan. Maka aku yakin dengan cinta tak perlu saling melupakan. Aku tak pernah lupa denganmu. Wanita yang begitu mempesona. Wanita yang membuat hari-hariku seperti di dunia bunga.  Bunga mawar yang menandakan hidupku penuh dengan tantangan. Bunga melati yang mengajariku untuk selalu tulus. Bunga anggrek yang menyejukkan hatiku. Yang pasti hidupku semakin menawan
Bagiku memilikimu bukanlah hal yang utama. Memandangmu, memperhatikanmu sudah sangat luar biasa bagiku. Tak pernah sedikit pun aku lengah akan hal itu. Hingga suatu hari aku merasakan sebuah kehilangan. Kehilangan yang sangat mendalam. Kau tak tampak dimataku.

Ya Allah, dimanakah hidupku? Aku seakan mati. Bernapas dengan satu bilik jantung, mulutku seakan kering. Keringatku dingin. Bibirku kelu. Mataku tak dapat memandang dengan jelas, remang. Kakiku tak bisa untuk berlari mencarimu. 

Aku tak berusaha bertanya kepada orang-orang di sekelilingku. Aku ingin mencari dengan hatiku, seperti biasa. Aku bisa menemukanmu dengan sangat cepat. Tapi kali ini, kau tak ada. Jejak kakimu saja aku tak bisa mengendusnya. Aku berusaha untuk bersabar. Ku berusaha mencari dirimu. Di setiap sudut ruangan. Sungguh, ingin rasanya aku menenggelamkan diriku di laut agar tubuhku terisi dengan air dan aku mati terdampar di tempat yang tak ada seorang pun mengenaliku.

Pagi ini aku diajak menemuinya di rumah sakit. Rasa itu kembali muncul. Rasa di mana hidupku seperti di dunia bunga. Tak ada alasan aku tuk menolak. Aku datangi rumah sakit dengan penuh percaya diri. Aku masuk ke dalam ruangan. Kulihat ayah dan ibunya sedang mendampinginya. Senyum mereka penuh dengan kebohongan. Senyum yang sengaja dibuat untuk menyembunyikan kesedihan. Aku salut pada mereka. Mereka sangat kuat. Sekuat karang. Tetap kokoh setia mendampingi putrid satu-satunya. Kuhampiri Nira. Matanya yang hampa tak mau memandangku. Dia tetap melihat atap yang baginya tak pernah bergerak. Aku tetap memberikan senyum walau tak dihiraukan. Matanya selalu mengeluarkan air mata. Subhanallah, air mata itu tak henti-hentinya mengalir seakan membajiri tubuhku.

Orang tuanya menceritakan kepadaku bahwa Nira terjatuh dari tempat duduk spesialnya. Dia sempat muntah, tetapi sesudah itu dia tak merespon apa-apa, hanya mengeluarkan air mata. Hatiku berteriak.  Mengapa aku tak bisa apa-apa untuk membantumu.

Nira, walaupun engkau cerebal palsy , aku sangat mencintaimu. Cintaku tak beralasan. Walau engkau berbeda dengan wanita lain, engkau tak bisa berjalan hingga remaja. Tapi hatimu tumbuh seperti emas yang sangat bernilai hargamya. Perhatianmu, tawamu, belaianmu, kata-katamu begitu membuatku seakan menjadi pangeran. Nira, kemana senyummu?tawamu?belaianmu?kata-katamu? Tubuhmu diam. Aku yakin engkau sedang bersedih, air matamu tak hentinya mengalir. Ingin rasanya aku goncangkan dia, memaksanya untuk bicara.

Aku duduk disampingnya. Aku raih tangannya yang tanpa respon. Lesu lunglai. Aku ciumi tangannya yang lembut. Aku paksa tangannya untuk membelaiku. Aku bisikan doa-doa ditelinganya yang begitu wangi sewangi parfummu. Nira hanya mengeluarkan air mata dan kulihat air matanya semakin deras. Aku hapus air matanya dengan usapan-usapan tanganku. Kucium pipinya dengan lembut hingga seorang suster harus menghentikannya karena keadaan Nira semakin kritis. Air mataku jatuh tak terhingga. Aku menjadi cengeng.  Orang tuanya menyarankanku untuk pulang karena kondisi Nira semakin tak stabil sejak kedatanganku.

Esoknya aku mendapati sebuah surat yang bertuliskan…..

Iim, aku memang berbeda dengan yang lain…Aku seorang cerebal palsy  yang tak bisa berbuat apa-apa untuk melayanimu. Engkau mengajariku banyak hal. Cinta, kesetiaan, ketulusan, kasih sayang. Aku sangat kagum padamu. Engkau tak malu selalu mendampingiku. Kau tetap setia menemanikun. Semoga engkau tetap percaya dengan cinta itu memaafkan. Aku mencintaimu…Amat sangat mencintaimu…seperti puisi yang sering kita baca ketika kita menunggu hujan reda…
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak pernah terucapkan kayu kepada api yang menjadikannya tiada
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak pernah terucapkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada…

Surat yang kubaca menjadi basah dengan air mataku…

Sabtu, 29 Oktober 2011

Rasa

Sering sekali aku merasakan dilidahku berbagai macam rasa
tapi aku lebih suka rasa manis
kadang rasa pedas pun aku rindu
Entahlah....
lama kelamaan aku juga harus membuat rasa
karena rasa harus aku buat menurut selera

Ada orang bilang lagi sebel rasanya melihat....
ada juga yang bilang rasanya pendengaranku membosankan

Rasa....
hari ini pun aku merasakan ...
aku, kamu, dia, kalian, mereka sedang terbuai dengan rasa...

Ayah

Terkadang....
aku ingin terbang bersamamu
atau hanya bertemu saja

Terkadang....
aku ingin melupakan itu
atau tidak sama sekali kuingat

Tapi mungkin saja....
kamu sedang ada disampingku
atau membelai rambutku
dengan sentuhan dan doa

Sungguh...
Aku sangat merindukanmu
sangat ingin dekat denganmu
bercerita, bermimpi
saling merasai...

Begitu indahnya....
ketika kau cium rambutku
seakan kasih sayang merasuki tubuhku..

Aku yakin cinta kita
tak pernah akan hilang
karena terlalu banyak darahmu mengalir ditubuhku